MALAM PERTAMAKU | Bab 39 : Gadis Kecilku

Aku menelan ludah yang terasa menggumpal di tenggorokan. Menyesalkan perubahan sikap Mas Andre yang seperti selalu terlihat lemah di depan mantan-mantannya. Ah, apa aku yang terlalu naif? Tahu ia tak mencintai pun, aku terlalu berharap padanya.

Andaikan menghilangkan rasa cinta di hati semudah saat cinta itu datang menghampiri, ingin rasanya kubuang rasa cinta yang hanya menimbulkan luka ini. Ya, tak mudah memang mencintai seorang badboy yang masa lalunya dikelilingi para wanita. Muncul saja salah satu mantannya, perasaan was-was dia bakal CLBK pasti datang. Karena aku tahu, hubungan yang mereka jalani pasti jauh. Tak sekadar pegangan tangan, tapi sampai bermain di atas ranjang.

Asal mengingat status badboy Mas Andre di masa lalu, kepalaku pasti mendadak berdenyut nyeri. Dan aku benci hal ini. Kadang terbersit juga keinginan memiliki pasangan yang punya masa lalu baik-baik, tapi rasanya terlambat. Lagian, hatiku pun memang sudah terlanjur tertawan dengan badboy satu ini. Ah, sudahlah.

Huft!

"Mas Andre apa kabar?" Pertanyaan Sheryl yang terlontar tiba-tiba membuat suamiku terlihat gugup.

Tahu apa yang kurasakan saat melihat suamiku tampak salah tingkah di depan sang mantan? Tentu saja aku geram setengah mati. Tak bisakah dia bersikap sedikit cool dan cuek?

"Ba-baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" Saking gugupnya, bahkan suamiku sampai tergagap. Menyebalkan!

"Baik juga." Mata Sheryl mulai tampak berkaca-kaca. Sejurus kemudian, ia bahkan memalingkan muka seperti tak ingin aku dan Mas Andre melihat bias kaca pada mata beningnya.

Hm, Sheryl masihkah kau menyimpan rasa pada mantan yang kini telah berstatus sebagai suami orang? Jika iya, picik sekali dirimu.

"Oh … Mbak yang namanya Sheryl kah? Temen kakak Tina? Akhirnya kita bisa bertemu, Mbak Sheryl. Kenalkan saya Indri istri Mas Andre." Aku mengulurkan tangan pada gadis yang berdiri kaku di hadapanku dan Mas Andre sambil berusaha mengatur nada bicara senormal mungkin. Bukankah lebih baik kita menunjukkan sikap elegan saat berhadapan dengan mantannya suami?

Tak seperti dugaanku, Sheryl seperti mencoba mengulas senyum sebelum menyambut uluran tanganku.

"Sheryl," balasnya dengan suara yang terdengar berat. Aku akui Sheryl mempunyai paras yang cantik dan menarik, wajar saja kalau dulu Mas Andre jatuh hati padanya dan … hampir memiliki anak bersama? Huh!

Melihat Sheryl bersalaman denganku memancing tatapan sendu Mas Andre saat menatap mantan kekasihnya. Apakah kisah lama dengan Sheryl tengah bermain di dalam benak Mas Andre sekarang? Agaknya iya. Lihat saja bagaimana dia berekspresi. Seolah menyiratkan kerinduan yang teramat dalam. Adilkah ini untukku?

"Ya udah, aku duluan." Sheryl tersenyum pahit saat undur diri dari hadapanku dan Mas Andre yang sepertinya tengah didera perasaan dilema.

"Yuk, ah, Mas. Katanya mau belanja!" Aku menggamit lengan kekar Mas Andre--membuat suamiku tertegun.

"Iya, ayo." Balasan Mas Andre terdengar mengambang. Ia berucap seperti dalam keadaan tak sepenuhnya sadar. Bukankah ini menjengkelkan?

Saat kulirik ke belakang, tampak Sheryl menatap nanar Mas Andre yang kugandeng lengannya dengan mesra. 

Maafkan aku, Sheryl. Aku hanya sedang berusaha memperjuangkan cinta suamiku sendiri yang sayangnya adalah mantanmu.

Mas Andre tampak tak begitu bergairah saat menemaniku belanja kali ini. Apa pertemuan dengan Sheryl tadi membuat hatinya didera perasaan gelisah? Apakah timbul rasa bersalah di hatinya karena menikahiku tanpa sepengetahuan mantan kekasihnya itu? Entahlah.

Selesai dengan acara belanja--membeli apa-apa yang persediaannya menipis di rumah, entah untuk alasan apa aku dibuat terharu saat melewati outlet khusus perlengkapan anak dan bayi. Tempat itu seolah memiliki magnet tersendiri untukku saat ini. 

Senyumku tersungging saat melihat seorang ibu muda yang menggendong bayinya sambil memilih-milih baju bayi. Bukankah mereka terlihat sangat manis?

"Mas, ke situ, yuk!" Tanganku menunjuk outlet kids and baby yang kali ini begitu memikat bagiku. Mas Andre terkesiap dan sontak mengerjap. 

"Mau ngapain?" tanyanya dengan menunjukkan raut penuh keheranan.

"Pengen liat-liat aja," balasku santai dengan tak melepas lengkungan di bibir.

Hatiku berdesir saat memegangi kaos kaki dan kaos tangan bayi yang warna dan modelnya begitu lucu. Ah, apakah ini pertanda aku telah siap menjadi ibu sekarang?

"Mas, kalo bulan depan aku positif gimana?" Pertanyaan yang mungkin terdengar nyeleneh sontak membuat suamiku ternganga.

"Ap-apa?" Mas Andre menatapku seolah tak percaya. Wajarkan, kalau aku bertanya tentang kemungkinan itu? Lagian, selama berhubungan tak pernah sekalipun kami memakai alat kontrasepsi. Kemungkinan jadi, ada, kan?

"Kalau aku hamil? Kamu bakal seneng ga?" Aku kembali melontar pertanyaan iseng.

Membuat Mas Andre kembali terkesiap.

"Ya tentu saja," jawabnya sambil memasang senyum tipis.

Benarkah kau akan menyambut gembira seandainya aku benar-benar hamil?

*

Tak seperti sebelum-sebelumnya, Mas Andre malam ini bersikap lebih pasif dibanding biasanya. Apa perubahan sikapnya ada sangkut pautnya dengan Sheryl?

Tengah malam, aku yang tiba-tiba terbangun, mendapati suamiku tengah berbalas pesan dengan entah siapa. Hm, apakah dengan Sheryl? Atau … mantan-mantannya yang lain?

Sabar, Indri, sabar! Besok cari tahu, ya! Aku berbisik dalam hati.

Sebelum waktu subuh, aku yang penasaran dengan siapa Mas Andre berkirim pesan malam tadi, berjalan mengendap ke nakas samping lelaki berwajah Indo ini. Ingin rasanya aku tahu dengan siapa dia ber-chatting ria sampai larut malam seperti tak kenal lelah.

Aku melenguh singkat saat sebuah kenyataan menyebalkan kudapati.

Aku dibuat dongkol saat mendapati ponsel Mas Andre yang biasa bisa kuakses dengan mudah, kini terasa menyulitkan. Bagaimana tidak? Ponselnya mendadak berpola sekarang. Bukankah laki-laki yang masih terpejam ini enar-benar menjengkelkan?

Mataku terbelalak, saat melihat riwayat panggilan tak terjawab dari seseorang yang diberi nama kontak Gadis Kecilku oleh Mas Andre.

Apa itu nama kontak untuk Sheryl? Begitu berartinya kah Sheryl bagimu, Mas?

Siapa yang kau cintai sebenarnya, Mas?

Zahra, Sheryl atau Indri?

Aku buru-buru meletakkan ponsel dengan gugup saat melihat Mas Andre menggeliat.

Ya Allah, apakah aku memang harus menyerah pada keadaan dan meninggalkannya?

Teringat lagi akan kata-kata Daniel kemarin. Mungkinkah bahagia bakal bisa diraih jika aku bersamanya?

"Mbak, aku capek sama Mas Andre."

Selepas salat subuh, aku mengirimi pesan Mbak Sandra sekadar agar beban di hati bisa berkurang.

"Kenapa lagi, Ndri?"

"Dia gak bisa move-on dari mantan-mantannya, Mbak."

"Sekarang Mbak tanya, kamu cinta nggak sama Mas Andre?"

"Cinta lah, Mbak."

"Kalau cinta perjuangkan! Kamu lebih berhak atas suamimu. Percayalah, perjuanganmu bakal berujung manis." Mbak Sandra menyemangati.

Kuletakkan ponsel dengan tak bergairah.

Baiklah, aku akan berjuang sejauh mana yang aku bisa. Namun, aku tak menutup kemungkinan bakal menyerah kalau semua usahaku terasa sia-sia.

Huft! Susahnya menikah dengan mantan badboy. Harus selalu siap dengan yang namanya cemburu dan makan hati.

Hm, semoga aku bakal tetap waras.

Ok. Kalau tak kuat, tinggalkan!


*****


Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~SAKIT~

AKEN KHAN KAYANA/VII B. (BIOGRAFIS JURNALISTIK, PERKENALAN.)