PATUNG NENEK TUA DI HUTAN PINUS
Malam itu, aku dan tiga temanku – Rio, Sita, dan Doni – memutuskan untuk berkemah di Hutan Pinus Cikole. Terkenal dengan keindahan alamnya yang asri, kami juga mendengar desas-usut tentang aura mistis yang menyelimutinya. Tentu saja, sebagai anak muda yang haus petualangan, hal itu justru menarik perhatian kami.
Setelah mendirikan tenda dan menyalakan api unggun, kami mulai bercerita dan tertawa lepas. Suasana hutan yang awalnya terasa menenangkan, perlahan berubah seiring dengan cerita-cerita horor yang kami lontarkan. Doni, si paling penakut di antara kami, mulai gelisah.
"Kalian tahu," kata Sita dengan suara berbisik, "konon di hutan ini ada patung nenek tua yang terbuat dari kayu. Katanya, kalau kamu berani menyentuh patung itu saat tengah malam, dia akan... mengikutimu pulang."
Rio tertawa mengejek. "Ah, cuma mitos saja, Ta! Nggak usah nakut-nakuti Doni."
Doni hanya diam, wajahnya pucat.
Sekitar pukul dua pagi, saat semua sudah terlelap kecuali aku yang masih asyik membaca, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan, seolah menyeret. Jantungku berdebar kencang. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya hewan malam, tetapi suara itu semakin mendekat, dan aku bisa merasakan aura dingin yang menusuk.
Aku mengintip keluar tenda melalui celah kecil. Samar-samar, di bawah cahaya rembulan yang redup, aku melihat sesosok bayangan hitam bergerak di antara pepohonan. Bayangan itu sangat tinggi, ramping, dan... terlihat seperti wanita tua yang membungkuk.
Keringat dingin membasahi tubuhku. Aku ingin berteriak, tapi suaraku seolah tercekat di tenggorokan. Sosok itu terus bergerak perlahan, seolah mencari sesuatu. Lalu, dia berhenti tepat di samping tenda kami.
Aku menahan napas. Aku bisa mendengar suara napas berat dari luar. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengawasiku, sangat dekat. Aku menutup mata rapat-rapat, berharap semua ini hanya mimpi.
Ketika aku memberanikan diri membuka mata lagi, sosok itu sudah tidak ada. Aku menghela napas lega. Tapi kemudian, aku merasakan sesuatu yang aneh di bagian bawah tenda. Seperti ada tekanan dari luar, tepat di dekat kakiku.
Aku mencoba untuk tetap tenang. "Mungkin cuma ranting," pikirku. Namun, tekanan itu semakin kuat, dan aku bisa merasakan jari-jari dingin seolah mencengkeram kain tenda dari luar.
Aku beringsut mundur, jantungku berdegap tak karuan. Tiba-tiba, dari dalam tenda, aku mendengar suara berderit yang sangat pelan, seolah ada sesuatu yang bergerak.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Di sudut tenda, tempat kami meletakkan tas ransel, patung kayu kecil berbentuk nenek tua yang dibeli Doni sebagai suvenir sore harinya, kini tergeletak di lantai dengan posisi yang aneh.
Padahal, aku ingat jelas, Doni meletakkannya di atas tasnya.
Dan yang paling membuatku merinding adalah... mata patung itu, yang tadinya terukir datar, kini terlihat seperti sedang menatapku, dengan senyum tipis yang menyeramkan.
Pagi harinya, aku menceritakan semua itu kepada teman-temanku. Doni pucat pasi, Rio terdiam, dan Sita terlihat sangat ketakutan. Kami memutuskan untuk segera berkemas dan meninggalkan hutan.
Dalam perjalanan pulang, Doni tiba-tiba berteriak. Kami menoleh, dan melihat dia menunjuk ke arah kaca spion mobil. Di sana, untuk sesaat, kami semua melihatnya: bayangan samar seorang nenek tua berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan dengan senyum yang sama persis seperti patung kayu itu.
Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi berani berkemah di Hutan Pinus Cikole. Dan setiap kali kami melihat patung nenek tua, bayangan di kaca spion itu selalu terlintas, membuat kami bertanya-tanya... apakah dia benar-benar mengikuti kami pulang?
#BERDASARKAN RINGKASAN AI

Komentar
Posting Komentar